Selasa, 30 Oktober 2012

Museum Negeri Jambi Kembali Berganti Nama


Pasca diresmikan tahun 1988, Museum di Kota Jambi ini diberi nama Museum Negeri Provinsi Jambi. Sebelas tahun kemudian, persisnya tahun 1999 berganti nama menjadi Museum Negeri Jambi. Dan, sekarang 2012 Museum ini berganti nama lagi menjadi Museum Siginjai. Berikut Catatannya.   

Rizal Ependi – KOTA JAMBI

Pergantian nama Museum Negeri Jambi menjadi Museum Siginjai, dilaksanakan pada Selasa 30 Oktober 2012. Hal ini didasari oleh Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 26 tahun 2012. Diresmikan oleh Wakil Gubernur (Wagub) Jambi, H. Fachrori Umar pada hari itu juga.

Meseum Singginjai berlokasi di Jalan Urip Sumoharjo, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi. Persisnya di depan Kantor PLN WS2JB Cabang Jambi, di Kelurahan Broni, tak jauh dari Rumah Dinas Walikota Jambi. 

Bersamaan dengan itu digelar pameran budaya Jambi dan khusus yang bertajuk ”Jambi Elok Nian” yang ditandai dengan penandatanganan prasasti serta pengguntingan pita oleh wakil gubernur Jambi.

Saat meresmikan, wakil gubenur didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jambi, H. Didy Wurjanto dan Kepala Museum Siginjai, Eni Suhartaty.
Peresmian penggantian nama meseum ini, menurut wagub, merupakan komitmen Pemerintah Provinsi Jambi guna melindungi dan melestarikan warisan budaya bangsa di Jambi. 

Museum Siginjai Jambi. Ft:\ Ist
Tujuannya, untuk memperkenalkan kepada masyarakat tentang keris siginjai yang merupakan senjata pusaka, milik salah seorang keturunan Raja Jambi : Rang Kayo Hitam. 
Sebab yang terkandung pada museum ini tidak hanya nilai sejarah namun juga mengandung nilai pendidikan.”Saat ini pihak museum telah melakukan hal itu dan mengelola warisan budaya dengan menjadikan museum ini wahana pariwisata daerah”,  ujar wagub saat menyampaikan sambutannya.
Dikatakan wagub, perlu dipahami bersama, bahwa pembangunan kebudayaan hendaknya tidak hanya dipandang sebagai pembangunan sektoral. Tapi sebagai pembangunan masyarakat secara holistik, yang berujung pada kesejahteraan yang lebih luas.
Wagub berharap, kegiatan tersebut dapat dijadikan momentum untuk terus mempertahankan dan melestarikan adat istiadat, budaya dalam membangun kehidupan yang lebih berbudaya, sehingga menjadi karakter bangsa dan daerah di masa kini dan mendatang.
Sementara itu, Kepala Disbudpar Provinsi Jambi, H. Didy Wurjanto menjelaskan, selain memperkenalkan senjata pusaka Jambi, pergantian nama museum ini guna menarik minat masyarakat berkunjung ke museum tersebut. 
Sebab kalau memakai nama yang lama, seolah museum ini hanya menyimpan barang-barang milik pemerintah. Padahal tidak demikian, di dalam museum tersebut bersemayam beragam benda peninggalan sejarah mulai zaman kerajaan.
“Jadi jika dinamakan Museum Singginjai, orang  akan langsung ingat kalau itu dari Jambi”, imbuhnya.
Pergantian mana ini merupakan hasil kesepakatan para budayawan dan tokoh masyarakat Jambi. " Nama ini juga diambil dari nama ikon Jambi berbentuk sebilah keris yang bernama Siginjai”, ujar Kepala Museum Singginjai, Suhartaty.
Museum ini, Suhartati melanjutkan, banyak  menyimpan benda peninggalan prasejarah seperti beliung batu, gong bertuliskan aksara kuno Cina, teko, piring porselen, fragmen tangan dan Arca Budha.
Perlu diketahui, museum ini dibangun dengan peletakan batu pertama oleh Gubernur Jambi, H. Masjchun Sofwan, Pada 18 Februari 1981. Luas lokasi 13.350 meter persegi.
Bangunan ini rampung tahun 1988, dan diremikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, DR. Fuad Hasan, pada 6 Juni 1988, dengan diberinama Museum Negeri Provinsi Jambi.
Dengan berlakunya UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah, maka Museum Negeri Propinsi Jambi berubah menjadi Museum Negeri Jambi sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) No.15 tahun 2002. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baca Berita Terbaru

10 Berita Paling Top